Laman

02 Juli 2014

SURABAYA PUNYA CERITA









Seniman Kebanggaan Kota Pahlawan
Gombloh memiliki nama asli Soedjarwoto Soemarsono, lahir di Jombang pada 14 Juli 1948. Anak ke-4 dari enam bersaudara dari pasangan Slamet dan Tatoekah ini tumbuh dalam lingkungan keluarga yang amat sederhana. Sang ayah hanya seorang pedagang ayam potong di pasar tradisional di kota Jombang.
Sebagai orangtua, Slamet amat berharap anak-anaknya dapat bersekolah setinggi mungkin agar memiliki kehidupan yang lebih baik. Oleh sebab itu, begitu menyelesaikan pendidikannya di SMA Negeri 5 Surabaya, Gombloh melanjutkan ke Jurusan Arsitektur Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya. Kuliah di ITS sebenarnya bertentangan dengan keinginan Gombloh, namun karena ingin membahagiakan kedua orangtuanya, ia pun menurut.
Setelah beberapa lama, hati Gombloh mulai berontak, ia tak ingin menjalani sesuatu yang tidak sejalan dengan minat dan bakatnya. Ia pun nekat membolos demi menekuni hobinya bermusik, hingga pada suatu ketika sang ayah menerima sepucuk surat yang berisi peringatan dari kampus tempat Gombloh belajar.
Untuk menghindari perdebatan panjang dengan orangtuanya, Gombloh kabur ke Bali. Di Pulau Dewata itu ia berpetualang sebagai seniman. Di sana ia mendapatkan kehidupan yang selama ini didambakannya, hidup tenang, jiwa bebas, tanpa kekangan disiplin ketat dan rutinitas jadwal kuliah.
Setelah sekian lama berkelana sebagai seniman jalanan di Bali, Gombloh mulai membuat album rekaman. Namun ia mengawali debutnya bukan sebagai Lihat Daftar Penyanyi
penyanyi
solo melainkan dengan tergabung dalam grup beraliran art rock/orchestral rock bernama Lemon Tree's Anno '69. Gaya bermusik grup yang pernah beranggotakan musisi Leo Kristi dan Franky Sahilatua ini banyak dipengaruhi oleh band-band mancanegara seperti ELP dan Genesis.
Gombloh yang memiliki andil paling besar dalam menciptakan lagu grup musik tersebut banyak terinspirasi dari keseharian rakyat kecil. Tengok saja, lagu-lagu kaum pinggiran berjudul Doa Seorang Pelacur, Kilang-Kilang, Poligami Poligami, Nyanyi Anak Seorang Pencuri, dan Selamat Pagi Kotaku.
Selain itu ia juga tergerak menulis lagu yang bercerita tentang kondisi alam. Salah satu karyanya yang melegenda adalah Berita Cuaca atau yang lebih populer dengan nama Lestari Alamku, walaupun itu bukan judul yang sebenarnya.
Gombloh juga mengangkat tema nasionalisme dalam lagu-lagunya, seperti Dewa Ruci, Gugur Bunga, Gaung Mojokerto-Surabaya, Indonesia Kami, Indonesiaku, Indonesiamu, Pesan Buat Negeriku, BK, dan Kebyar Kebyar. Lagu yang paling akhir masih sering dinyanyikan hingga saat ini.
Di samping lagu-lagu yang bertema serius, Gombloh juga menciptakan lagu-lagu cinta. Tapi lagu cinta ciptaannya tak seperti karya musisi kebanyakan yang menggunakan lirik puitis nan romantis. Gombloh lebih senang memilih kata-kata yang terkesan 'nyeleneh' dalam lirik lagu yang dikarangnya. Misalnya saja Lepen yang bermakna 'got' dalam bahasa Jawa, tetapi yang dimaksud Lepen oleh Gombloh adalah 'lelucon pendek'.
Kekayaan imajinasi seorang Gombloh selain dapat dilihat dari beragamnya tema yang dipilihnya, juga dari bahasa yang ia gunakan dalam setiap karyanya. Selain bahasa Indonesia, Gombloh bersama Lemon Tree's juga pernah pula merilis album berbahasa Jawa yang kemudian diberi judul Sekar Mayang.
Setelah berhasil menelurkan sepuluh judul album bersama Lemon Tree's, Gombloh memutuskan untuk bersolo karir di tahun 1983. Pasca hengkang dari band tersebut, kemampuan Gombloh dalam mencipta lagu semakin menggila. Seperti judul album solo perdananya dirilis tahun 1983, Gila. Setahun berselang, Gombloh kembali hadir dengan album terbarunya yang diberi judul 1/2 Gila. Kemudian di tahun 1986, album ketiganya yang bertajuk Apel resmi diluncurkan. Masih di tahun yang sama, Gombloh kembali mengeluarkan album berjudul Semakin Gila. Album solo terakhirnya Apa Itu Tidak Edan dirilis tahun 1987.
Banyak pengamat musik yang berpendapat, semenjak bersolo karir, Gombloh terkesan mengendurkan idealismenya dengan lebih mengedepankan album bergaya pop ringan dan dengan lirik-lirik sederhana dan jenaka. Meski begitu, karya-karyanya tetap disukai masyarakat dan namanya tetap populer. Hasil kerja kerasnya itu tentu mendatangkan keuntungan materi yang tak sedikit namun ia tak menjadi kaya dengan itu. Karena ia lebih suka menghabiskan rezeki yang didapat dengan makan-makan bersama kawan-kawannya. Bagi Gombloh, industri musik hanya sebagai ladang menuangkan kreativitasnya bukan untuk memperkaya diri.
Musisi sederhana nan idealis ini menghembuskan nafas terakhirnya di Surabaya pada 9 Januari 1988 di usia yang masih terbilang muda, 40 tahun. Penyakit paru-paru yang memang telah lama menggerogoti tubuh kurus Gombloh akibat kebiasaannya merokok dan begadang, pada akhirnya merenggut jiwa sang seniman kreatif itu.
Banyak kalangan merasa kehilangan sosok Gombloh, dari mulai masyarakat awam yang menjadi penggemarnya, hingga rekan seprofesinya, para seniman. Delapan tahun setelah kepergiannya tepatnya tahun 1996, sejumlah seniman Surabaya membentuk Solidaritas Seniman Surabaya untuk mengenang Gombloh yang dianggap sebagai Lihat Daftar Pahlawan Nasional
pahlawan
seniman Kota Lihat Daftar Pahlawan Nasional
pahlawan
itu.
Selain itu, mereka juga membuat patung Gombloh seberat 200 kg yang terbuat dari perunggu. Patung tersebut kemudian ditempatkan di halaman Taman Hiburan Rakyat Surabaya, salah satu pusat kesenian di ibukota provinsi Jawa Timur itu.
Nama besar Gombloh kembali mengemuka saat peringatan Hari Musik Indonesia III di Jakarta. Dalam acara yang dihelat pada 30 Maret 2005 itu, almarhum mendapat penghargaan Nugraha Bhakti Musik Indonesia secara anumerta dari Persatuan Artis Lihat Daftar Penyanyi
penyanyi
, Pencipta Lagu dan Penata Musik Rekaman Indonesia (PAPPRI). Dalam ajang penghargaan tersebut, Gombloh disandingkan dengan nama-nama besar di dunia musik lainnya seperti Nike Ardilla, Titiek Puspa, Anggun, Iwan Fals, Ebiet G Ade, Titek Sandhora, Deddy Dores dan Broery Marantika.

 

 

SERIAL MEMORIES OF GOMBLOH: Iring-Iringan Itu Semakin Panjang


Surabaya | Gombloh meninggal di puncak kariernya. Seniman mumpuni ini, seolah-olah ‘menilap’ banyak orang. Dia pergi justru ketika orang-orang makin percaya pada dinamika kariernya, dan juga perkembangan kesehatannya.  Hari itu, 9 Januari 1988, Surabaya menjadi begitu muram. Malam Minggu tak seperti biasanya, menjadi malam sarat akan duka. Di mana-mana, orang lantas membicarakan kepergian seniman pujaannya, dalam nada yang nyaris tak percaya kebenaran berita yang didengarnya. Akan tetapi, ketika kemudian TVRI Surabaya menyiarkan berita duka itu-lengkap dengan penayangan gambar almarhum di RS Darmo, tempat almarhum dirawat sebelum meninggal, barulah orang-orang itu yakin bahwa sang bintang pujaan memang telah berpulang.


Pembicaraan tentang kematian sang seniman jadi semakin meluas pada esok paginya, terutama setelah media massa yang terbit Minggu pagi sontak menurunkan berita duka itu sebagai berita utama. Hampir seluruh radio di Jawa Timur secara spontan sehari penuh mengudarakan lagu-lagu Gombloh, sejak album pertamanya hingga album terakhirnya. Suasana menjadi sangat dramatis, yang tak pernah dijumpai pada saat meninggalnya artis-artis ataupun seniman-seniman lain. Rasa kehilangan semakin terekspresikan dengan jelas pada saat pemakaman. Ribuan orang ikut mengiring jenazahnya, menyaksikannya untuk yang terakhir kali. Bahkan seolah-olah seperti mau ngalap berkah almarhum, sehingga banyak yang saling berebut hendak memanggul keranda tempat almarhum terbujur, ketika dinaikkan di mobil jenazah, dan ketika menuju tempat istirahatnya yang terakhir.

Jenazah diberangkatkan dari rumah duka sekitar pukul 10.00 WIB. Prosesi jenazah dikawal langsung oleh mobil patroli Polwiltabes Surabaya. Lalu diikuti konvoi klub Harley Davidson, klub Mercy Surabaya, iring-iringan puluhan mobil dan sepeda motor, hingga bus kota DAMRI. Bahkan tak ketinggalan ada juga yang mengayuh sepeda pancal dan becak. Sepanjang perjalanan sejauh ± 15 kilometer dari rumah duka ke pemakaman umum Tembok tersebut, iring-iringan menjadi semakin panjang dan banyak, karena masyarakat di sepanjang jalan yang dilalui iringan-iringan ini spontan ikut bergabung.

Sebuah belasungkawa spontan yang begitu luar biasa. “Gombloh.. Gombloh..”, teriak orang-orang di sepanjang jalan. Ada beberapa remaja yang sampai-sampai berteriak histeris, menyebutkan nama Gombloh sambil mengacungkan tangannya. Suasana ini seakan-akan melebihi sebuah pawai dari salah satu organisasi peserta Pemilu. Berkerudung hitam, istri almarhum, Wiwiek ikut mengantar sambil dipapah oleh ayah almarhum, Pak Slamet dan Yodi, keponakannya. Eddy Sud, Arie Wibowo, Rinto Harahap, dan beberapa artis teman dekat almarhum, juga ikut berada dalam rombongan iring-iringan tersebut. Tak ketinggalan seluruh kerabat dan sanak keluarga besar almarhum.

Gerbang makam yang berada di tengah pasar itu jadi sarat lautan manusia. Mobil jenazah pun geraknya menjadi tersendat-sendat, sulit menembus gelombang manusia yang begitu dahsyatnya. Terlebih ketika keranda diturunkan dari mobil jenazah, puluhan orang berebut untuk ikut kebagian memanggulnya. “Kita semua merasa sangat kehilangan. Wajar saja kalau suasananya menjadi seperti ini”, komentar Eddy Sud, koordinator Artis Safari. Berbusana safari coklat, lengkap dengan lencana DPRnya, Eddy menambahkan, “Saya tak menduga, ia akan dipanggil Tuhan secepat ini. Tidak hanya masyarakat Surabaya yang merasakan kehilangan atas perginya almarhum, tapi kita semua merasakannya. Bangsa Indonesia kehilangan salah seorang seniman terbaiknya”. Bahkan Eddy Sud menyebut Gombloh sebagai pribadi yang penuh optimisme dan memiliki semangat kerakyatan.

Rinto Harahap, ketua ASIRI (Asosiasi Industri Rekaman Indonesia) yang ikut hadir melayat, berkomentar, “Hanya Gombloh yang dapat meramaikan bahkan menghibur masyarakat  melalui lagu-lagunya yang gampang dicerna. Sudah saatnya Gombloh bukan hanya jadi milik Surabaya, tetapi sudah menjadi aset nasional”. Menurut Rinto, dengan meninggalnya Gombloh, dunia musik pop Indonesia kehilangan tokoh penting dan berharga, karena lagu-lagu Gombloh memberikan warna lain dalam khasanah musik bangsa. Titi Qadarsih, tangisnya meledak, begitu sampai di depan gundukan tanah tempat almarhum disemayamkan untuk selama-lamanya. Seorang pengawalnya, terpaksa memapah Titi yang limbung. Titi mengaku menyesal terlambat datang di saat kepergian almarhum, hanya sempat melihat gundukan tanah yang telah ditimbuni belasan karangan bunga. “Saya datang terlambat, karena pesawatnya terlambat. Saya kehilangan teman terbaik. Saya tak menyangka empat hari lalu adalah saat terakhir saya melihatnya“, tutur Titi sambil sesenggukan.

Arie Wibowo, yang ikut melayat ke rumah duka mengatakan, “Saya mengagumi Gombloh sejak album Kebyar-Kebyar, yakni sejak saya belum serius terjun ke dunia musik”. Karena itu, ketika dia punya kesempatan bekerjasama dengan almarhum, dia senang sekali. Album yang digarap bareng itu berjudul “Di Radio, Ada Anak Singkong”. Duet Gombloh dan Arie Wibowo ini bahkan sempat dicetak ke dalam bentuk compact disc, dan merupakan satu-satunya compact disc karya musisi Indonesia yang digarap di luar negeri, di Jepang. “Sebelum meninggal, rencananya almarhum akan duet dengan saya untuk kedua kalinya, pada Maret 1988. Rencana dan materi sudah siap, bahkan sampai pada itung-itungan honor juga. Tapi sayangnya, Tuhan berkata lain”, ujarnya.

Akhudiat, dramawan dan sastrawan Surabaya yang juga kenal dekat dengan almarhum, mengatakan bahwa Gombloh pantas disebut sebagai tokoh dalam industri musik pop. “Tentu saja ketokohannya harus ditakar dari paradigma musik pop, jangan ditakar dari ukuran jenis musik yang lain. Lagu almarhum, punya identitas. Ya identitas kegomblohannya itu, yang hingga saat ini tidak dipunyai penyanyi lain. Dia lahir dari sikap yang mandiri, bukan epigon siapa-siapa”, ujarnya. Vicki Vendi, mengatakan “Saya kehilangan kawan, sekaligus guru bagi saya pribadi”. Penyanyi yang telah melahirkan tujuh album, enam di antaranya adalah karya Gombloh ini, sejak malam meninggalnya Gombloh terlihat sangat sibuk, ikut membantu tuan rumah menyambut para pelayat.

GUGUR GUGUR BUNGA - GOMBLOH



*) Disadur dari buku “Blues untuk Kim“, yang sebelumnya dimuat di Surabaya Post, 11 Januari 1988 dan foto diolah dari berbagai sumber.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar